MINA – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) meningkatkan pengawasan dan layanan bagi jemaah haji Indonesia selama fase Mina, khususnya saat pelaksanaan lontar jumrah pada hari Tasyrik kedua, Jumat (29/5/2026) atau 12 Dzulhijjah 1447 Hijriah waktu setempat.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, mengatakan seluruh jemaah diimbau mematuhi jadwal lontar jumrah yang telah ditetapkan guna menjaga keselamatan dan menghindari kepadatan di kawasan Jamarat. Pada hari tersebut, jemaah melaksanakan lontar tiga jumrah, yakni Ula, Wustha, dan Aqabah.
Menurut Maria, keselamatan jemaah menjadi prioritas utama. Karena itu, jemaah diminta tidak melakukan lontar jumrah pada jam-jam yang dilarang serta selalu bergerak bersama rombongan dan mengikuti arahan petugas.
Kemenhaj juga mengatur jadwal lontar dalam dua sesi, yakni pagi hingga menjelang siang dan malam hari. Sementara pada waktu larangan, jemaah diminta tetap berada di tenda untuk menghindari cuaca panas dan kepadatan di area Jamarat.
Bagi jemaah yang memilih Nafar Awal, proses kepulangan menuju Makkah dilakukan secara bertahap menggunakan armada bus yang telah disiapkan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pergerakan jemaah berlangsung tertib dan aman.
Untuk mendukung kelancaran operasional, Kemenhaj menyiagakan 1.356 petugas Satgas Mina di berbagai titik strategis. Mereka bertugas mengarahkan arus jemaah, mengantisipasi kepadatan, serta memastikan jemaah kembali ke tenda melalui jalur yang aman.
Selain itu, sebanyak 19 unit mobil golf dikerahkan guna membantu jemaah lansia, penyandang disabilitas, jemaah yang kelelahan, maupun mereka yang terpisah dari rombongan atau kehilangan arah setelah melaksanakan lontar jumrah.
Kemenhaj juga mengoperasikan Mobile Crisis Rescue (MCR) di kawasan Jamarat. Tim ini berfungsi sebagai layanan tanggap darurat yang siap memberikan pertolongan pertama, membantu evakuasi, serta menangani berbagai kondisi darurat yang mungkin dialami jemaah selama puncak ibadah haji berlangsung.
Melalui penguatan layanan tersebut, Kemenhaj berharap seluruh jemaah Indonesia dapat menjalankan rangkaian ibadah di Mina dengan aman, nyaman, dan lancar.




